Sabtu, 27 September 2014

-Hidup-
    Pernahkah kalian merasakan tidak bergairah dalam menjalani hidup?berada di ujung jurang keputus-asaan?kecewa terhadap diri sendiri?merasa gagal dalam mencapai sesuatau?
                     Tahukah Kamu?          
Bahwa menyenangkan memandang tetes embun yang mulai luruh dari ujung daun,

Melihat anak-anak di pinggir jalan BERLARI,TERTAWA,BAHAGIA melupakan nasib hidupnya.

Tak Irikah Dirimu?
          Tak irikah dengan mereka. Mereka yang tetap bisa tersenyum,mereka yang tak gentar melawan hidup,meski kadang nyawa mereka yang ditaruhkan demi mendapat sepersen koin-koin dari kalian,meski janji masa depan yang layak, TAK DAPAT mereka GENGGAM.
             Berspionlah pada mereka!
Mereka yang masih di bawah kita bukan yang sudah diatas kita!
Agar kita bisa bersyukur atas segala kenikmatan hidup.

Bangkit!
Jangan terpuruk lagi dalam kesedihan
Buktikan HIDUPmu bisa BERUBAH!
TATAP DUNIA, jangan lagi ada AIR MATA
TERSENYUMLAH! Genggam masa depanmu! JJJ




Selasa, 23 September 2014

Cerpen

Hujan dan Kenangan
Losing him was blue like I’ve never know
Missing him was dark grey  all alone
But loving him was RED….
            Lagu milik Taylor Swift itu mengalun di gendang telingaku,melalui headset yang terhubung dengan MP 3. Diluar hujan deras,mengguyur halaman rumah. Bau tanah yang   terkena air hujan,menusuk hidungku. Tapi aku selalu suka itu. Karena hujan,ia yang selalu membawaku kembali pada sebuah kenangan tentangnya,membuat rasa rinduku tersampaikan dan terkadang sampai aku menitikkan air mata karenanya.
*****
            Riki,dia adik laki-laki kembaranku. Aku yang sebagai kakak. Riki sangat berbeda denganku, dia mudah bergaul sedangkan aku lebih suka mengurung diri di kamar. Meskipun begitu aku sangat menyayanginya,begitu juga dengan Riki,dia sangat sayang padaku. 10 juli 2012,aku masih ingat hari itu, hari dimana kami ber-ulang tahun ke-17.
“Em.. Bu, Riki mau ijin hang-out bareng temen-temen ya,ke puncak. Boleh ya?” rayu Riki pada ibu.
“Ngapain ke sana?”
“ya… ngerayain sweet-seventeen nya Riki lah bu..”
“Nggak usahlah, di rumah aja lagian kan nanti malam ada acara.”
“Ayolah bu..”
“lagian mendung lo,bentar lagi hujan Rik,”
“Ah ibu, siang bolong gini kok,Rik bukan anak kecil lagi yang bisa dibohongin, janji deh sebelum jam 5 sore nanti Riki balik.” Janji Riki sambil menunjukkan 2 jari membentuk peace
“Hmm.. ya sudahlah hati-hati!”
            Riki bersiul-siul senang karena di izinkan ibu pergi dengan teman-temannya,ia yang menyadari bahwa aku yang dari tadi diam dan sembunyi di balik buku,mencoba menyapaku,
Hello My Sista, hang-out yuk kak,bareng Riki. Kan ini ulang tahun kita berdua,”
“Nggak ah males” jawabku ketus.
“Idih,, yang lagi ultah kok sensi sih? Come on sist, it’s our sweet-seventeen sekali dalam seumur hidup, kali-kali kek keluar bareng adik kandung, biar Riki punya kenang-kenangan sama Kak Niki.”
“Kapan-kapan aja deh,kakak pengen di rumah.”
“Oke deh,aku keluar dulu ya kak.”
“Hati-hati Rik” pesanku.
            Setelah Riki keluar rumah,aku melanjutkan membaca novelku. Suasana rumah sangat hening,ibu di dapur,mbak Jum sudah pulang,dan aku sendirian di ruang tamu. Suara gemuruh di luar sedikit menyentakku. Titik-titik air mulai turun dari langit,semakin lama semakin deras. ‘hujan-hujan gini pas buat tidur’ batinku,aku melangkah gontai menuju kamar. Kurebahkan tubuhku dan wajahku kubenamkan di bantal. Nyaman.
*****
            Kring…Kring…
            Aku terbangun. Kulihat meja disebelahku,HP ku berbunyi tanda ada panggilan masuk. Di display tertera ada nama Riki,tanpa banyak bertanya dalam hati,aku mengangkat telponnya.
“Apakah ini dari keluarga Riki Ardiansyah?” terdengar suara asing dari seberang sana,suara siapa?
“Ya Benar,Ma’af siapa ya?”
“Umm… Kami dari pihak kepolisian, ananda Riki Ardiansyah mengalami kecelakaan saat perjalanan pulang dari puncak”
Ah orang ini ada-ada saja,ini pasti modus penipuan.
“Pak, tolong tidak usah mengada-ada hal yang tidak ada. Dosa loh pak.”
“Saya tidak berbohong mbak.” Terdengar nada keseriusan dalam bicaranya.
Ibuku yang mendengar berisik-berisik dari luar menghampiriku di kamar.
“Ada apa sih Nik?”
“Nih buk,ada orang bilang kalau Riki kecelakaan.”
“Hah? Mana HP mu?ibu pengen bicara.”
Kuserahkan HP ku pada ibu,lalu ibu keluar. Sekitar 5 menit ibu berbincang-bincang bersama orang aneh itu.
“Ayo Nik kita harus segera menuju TKP” ibu menyeretku keluar rumah dengan mata yang sembap. Aku tidak bisa berkata-kata.sedangkan di luar masih hujan deras. Dengan pakaian yang basah kuyup,kami menaiki ojek menuju TKP, sesampainya di sana aku melihat orang-orang berkerumun. Aku mencoba mendusal untuk melihat apa yang terjadi,begitu juga dengan ibu. Seketika tangisku langsung pecah,lemas rasanya. Bau anyir darah menyatu dengan air hujan,aku tak tega melihatnya,kupalingkan wajahku dan menangis sejadi-jadinya. Berharap semua ini hanya mimpi. Pukul 16.30 jenazah Riki disemayamkan di TPU terdekat. Tangisan keluarga serta kerabat dan do’a mengiringi kepergiannya.
*****
“Niki..”
Panggilan ibu membuyarkan lamunanku tentang Riki.
“Nggak makan Nik,tuh ada sop ayam hangat kesukaanmu,pas kan hujan-hujan gini makan makanan yang hangat-hangat.”tawar ibu sambil mengelus punggungku. Lalu ibu duduk di sebelahku.
“Nanti saja bu, lagipula sop itu mengingatkanku pada Riki,kan dia juga suka sop ayam.”kenangku.
Ibu tertawa kecil,lalu berkata,”Kapan kamu merelakan kepergiannya?”
“Niki sudah ikhlas bu,tapi rasa rindu itu yang nggak bisa Niki tahan.”
“Nik…” ibu menggenggam tanganku,mencoba menguatkan, “terkadang ibu juga sering rindu,rindu akan tawa renyahnya,keusilannya,kalau dia merengek meminta sesuatu seperti anak balita. Tapi jika ibu pikir,kalau ibu larut terus-menerus dalam kerinduan,Riki tak akan tenang disana.” Mata ibu mulai berkaca-kaca.”ibu yakin dia selalu bersama kita.”ibu tersenyum,lalu bangkit dari duduknya dan keluar.Aku memandangi foto Riki yang terpajang di dinding kamarku,”Selalulah bersama kami Rik.” Gumamku lirih.
            Riki, ia yang selalu hadir dengan hujan meskipun ia telah luruh bersama embun.
***TAMAT***



Jumat, 19 September 2014

Puisi

(Bukan) Kisah Cinta
Paras malaikatmu itu yang pernah membuatku kagum
Paras malaikatmu itu yang membuatku percaya,bahwa negri dongeng itu ada
Paras malaikatmu itu yang juga membuatku menuliskan sejuta puisi tentang dirimu

Namun,aku tak pernah mengharap cinta darimu
            Tak pernah mengharap sayang darimu
Dan juga tak mengharap perhatian darimu
                                                            
Karena,hati licikmu itu yang membuatku sadar,
Sadar dari mimpi dan khayalan indahku
                       
                        Jika orang di luar sana mengelu-elukanmu,beribu kali aku menertawakan mereka
                        Karena mereka belum tahu,bagaimana kau ‘membuang sampah’ sembarangan
                        Terdengar kejam?memang!
                        Sekejam hati iblismu

                        Mengerikan,tapi itu kenyataan
Asa Seorang Senja
Senja…
Terduduk di ujung jurang
Menengadahkan mata ke langit senja
Penuh asa,sarat harapan
Ia diam,
Tapi tak bisu
Ia sayu,
Tapi tak lemah

Mentari senja…
Hal indah yang sebentar lagi binasa
Angin sore…
Membelai rambutnya penuh kasih
Burung Gagak…
Yang hanya menemani

Ia pejamkan mata
Berharap pada seorang senja,
Agar malam tak datang
Dan agar malam tak merenggut asanya


AKANKAH ESOK,IA MASIH BISA MENIKMATINYA?

Cerpen

Amanat
            “ Makasih ya Riz traktirannya. Oh ya… habede juga ya.” Reza menepuk-nepuk punggungku sembari berlalu. Aku hanya membalas dengan tersenyum.
            Hari ini aku ulang tahun,kutraktir teman-temanku. Ya biasalah ngopi,makan siang,bahkan ada yang minta ditraktir rokok,3 hal itu sudah cukup memanjakan perut mereka yang setiap siang bergemuruh minta diisi. Setelah semua temanku pulang ke asram masing-masing,tinggal aku seorang diri di warung Mpok Odah.
“mmm.. berapa mpok jumlah totalnya?”
“Rp 250.000 Riz.”
Aku terkejut, Rp 250.000?batinku. Tak apalah hitung-hitung sedekah,lagipula ini tahun ke-3 aku merayakan ulang tahun di pesantren ini. Aku bahagia. Sangat. Aku menyerahkan uang sebesar jumlah total teman-temanku tadi ke Mpok Odah.
“Tebal amat dompetmu Riz,baru dijenguk ya?”
“Alhamdulillah,orang tua dirumah masih ingat saya mpok” jawabku sambil tersenyum. Mpok Odah terkekeh mendengar jawabanku.
            Aku keluar dari warung Mpok Odah. Akhirnya aku bisa bernafas lega. Warung Mpok Odah yang kecil nan sempit belum ditambah suara teman-teman yang riuh rendah minta makanan,membuat ruangan pengap,bahkan terasa tak ada oksigen di dalamnya.
            Tak terasa aku sudah sampai di asramaku. Saat hendak masuk kamar,langkahku terhenti karena ada yang memanggilku.
“Riz!” seru orang dibelakangku.
Aku menoleh,Andre rupanya. “Ya,ada apa?”
“Kata ustadz,kamu disuruh kekamarnya,ada telpon dari ibumu.”
Ada telpon dari ibu?baru kemarin ibu sambang.
“Hei malah melamun,buruan!” Andre membuyarkan lamunanku. Aku berlari kecil menuju kamar ustadz. Sesampainya disana ustadz Hasbi menyerahkan HP nya padaku.
“Assalamu’alaikum,Rizky?”terdengar suara wanita yang lembut dari seberang sana. Ibu.
“Wa’alaikumsalam,baru kemarin ibu sambang,ada apa bu?”
“Selamat ulang tahun putra ibu tersayang. Jadilah lebih baik dari tahun kemarin. Semoga diberi kesehatan,ilmu yang barokah dan manfa’at,belajar yang rajin juga,buat bangga ibu dan abah ya nak.” Aku terenyuh,air mataku menetes. Terbayang wajah ibu yang syahdu dan tatapan matanya yang melankolis,. Terkadang hal itu yang sering membuat aku rindu kepada ibu. Aku ingin memeluknya.
“Aamiin,isyaallah bu.”aku hanya bisa membalas itu.
“Riz,uang syariah Rp 250.000 yang ibu kasih waktu sambang sudah kau bayar kan?”tanya ibu memastikan. Aku terhenyak,aku baru ingat kemarin waktu ibu menjengukku,ibu mengamanatiku untuk membayar uang syari’ah yang menunggak bulan kemarin. Aku terdiam lama,aku tak bisa menjawab pertanyaan ibu.
“Eh…Um.. sudah kok bu”aku berbohong”
“Ya sudah,ibu ppercaya denganmu Rizky,Wassalamu’alaikum” Ibu menyuidahi pembicaraan.
“Wa’alaikumsalam” Aku berbalik badan mengembalikan HP ustadz Hasbi.
“Makasih ustadz”
“Sama-sama. Oh ya,selamat ulang tahun Rizky” Ustadz Hasbi tersenyum simpul padaku. Aku hanya membalas dengan senyum juga.
***
            Gusar. Jam menunjukkan pukul 12.05 WIB malam. Tetapi mataku tak kunjung terlelap. Tak biasanya aku terjaga sampai jam segini. Kulihat teman-temanku,mereka sudah terlelap,mengarungi mimpi mereka masing-masing. Pertanyaan ibu terngiang di telingaku lagi. bagaiman ibu kecewa?lalu marah padaku?lalu bagaimana aku menggatinya?,pertanyaan-pertanyaan iru menggelayut di otakku. Bagimana bisa,aku mengira kalu itu uang lebihan yang merupakan rejekiku? Bodohnya aku.
***
            Esoknya aku mendapat telpon lagi dari ibu. Aku sudah bisa menebak ibu akan membahas apa.
“Riz ibu dapat telpon dari Pengasuh asramamu katanya uang syari’ah belum dibayar. Kau kemanakan uang itu Riz?” tak ada nada cemas maupun marah dari suara ibu. Begitu sabar.
Aku memberanikan bicara dan terus terang. “Ma’afkan Rizky bu,uang itu Rizky gunakan untuk mentraktir teman-teman kemarin.”
“Rizky anakku,kau sudah dewasa,sudah bisa membedakan mana yang baik dan salah,selesaikan masalah ini dengan mandiri.” Tutur ibu sabar. Aku menangis. Bagaimana ibu begitu sabar menghadapi ku,yang hanya benalu baginya?. Meskipun ibu diseberang,aku bisa merasakan tangan ibu mengusap rambutku dengan penuh sayang,itu yang biasa ibu lakukan ketika sifat benaluku kumat.
            Setelah telpon aku bergegas menuju kantor administrasi untuk membayar uang syari’ah,seperti yang diamanatkan ibu.
“Ustadz saya mau membayar uang syari’ah yang nunggak bulan kemarin.”
Ustadz Ro’uf-pemegang administrasi asrama-yang tadinya ber-komputer ria, mendongakkan kepala beliau ke arahku.
“Atas nama siapa?”
“Muhammad Rizky Pratama,kamar Imam Maliki.”
“Sebentar ya,”
Ustadz Ro’uf mengecek buku pembayaran. Sementara itu aku membuka dompet,kuambil semua isinya,Rp 500.000,batinku,sebenarnya itu uang sakuku sampai akhir bulan,namun kuambil uang senilai Rp 250.00 untuk mrmbayar itu semua.
“Sudah lunas.” Ustadz ro’uf mengernyitkan dahi,heran. Mataku terbelalak.
“Benar ustadz?”
“Iya,nih kalau kamu nggak percaya!” Ustadz Ro’uf menyerahkan buku keungannya padaku. Benar,disitu tertulis namaku,kamarku,tanda stempel asrama bukti lunas dan tanggal pembayaran yaitu 29 Agustus 2014,itu berarti hari ini. Siapa yang membayar ini?. Aku sangsi. Lega?,tidak sama sekali,meskipun itu sudah terbayar lunas. Jujur,aku bertambah gusar.
***TAMAT***





Welcome To My Blog

Assalamu’alaikum Wr.Wb
            Hai para blogger di tanah air,,,,. Perkenalkan namaku Abdhi Gusti Illahi,biasa dipanggil akrab, illa. Aku  perempuan,tepatnya perempuan remaja. Umurku baru 14 tahun. Aku kelahiran Jombang,29 Agustus 2000. Saat ini aku duduk di kelas 3 SMP,alamat sekolahku di SMPN 3 Peterongan di Ponpes Darul ‘Ulum Peterongan Jombang.
            Aku sangat suka dengan dunia menulis. Writing is a half of my self,yup bisa dibilang begitu. Sebenarnya sudah sangat lama aku ingin membuat blog, dan Alhamdulillah, baru ini Allah SWT mengizinkan terciptanya blog ini. Ketertarikanku pada dunia menulis dan sebangsanya dimulai saat aku duduk di bangku Taman Kanak-Kanak. Itu semua berawal dari ibuku yang selalu membiasakan untuk menulis apa saja yang aku lakukan seharian,entah itu puisi,mengarang cerita dan curhatanku, buku diary? Bisa dibilang begitu tapi aku ralat-buku diary anak TK-karena saat itu aku belum mengetahui aturan-aturan menulis. Asal saja.So, I must say thanks to mom-“thanks mom,all because you”-. Selain itu ayahku yang selalu mendongeng ketika aku masih duduk di TK. Ya,ayahku tak pernah kehabisan ide-ide sebagai pengantar tidur putri-putrinya, thanks to Dad too.
            Blog ini akan kuisi SEKENA HATIKU. Entah itu puisi,cerpen,kata mutiara,motivasi, dan bisa juga imajinasiku… Banyak ide-ide yang belum sempat kutulis,sebenarnya. Tapi kebanyakan sering lupa ketika aku menulisnya,itu hal yang paling kubenci. Cita-cita ku bukan menjadi penulis,tapi menulis hanyalah hobi dan kurasa ini panggilan jiwaku.
            Sekian perkenalan dariku. Ku harap blog ini bisa menuangkan seluruh ide-ide dalam otakku, syukur-syukur bisa bermanfaat. Aamiin ya Rabbal’alamiin

Wassalamu’alaikum.Wr.Wb