Jumat, 19 September 2014

Cerpen

Amanat
            “ Makasih ya Riz traktirannya. Oh ya… habede juga ya.” Reza menepuk-nepuk punggungku sembari berlalu. Aku hanya membalas dengan tersenyum.
            Hari ini aku ulang tahun,kutraktir teman-temanku. Ya biasalah ngopi,makan siang,bahkan ada yang minta ditraktir rokok,3 hal itu sudah cukup memanjakan perut mereka yang setiap siang bergemuruh minta diisi. Setelah semua temanku pulang ke asram masing-masing,tinggal aku seorang diri di warung Mpok Odah.
“mmm.. berapa mpok jumlah totalnya?”
“Rp 250.000 Riz.”
Aku terkejut, Rp 250.000?batinku. Tak apalah hitung-hitung sedekah,lagipula ini tahun ke-3 aku merayakan ulang tahun di pesantren ini. Aku bahagia. Sangat. Aku menyerahkan uang sebesar jumlah total teman-temanku tadi ke Mpok Odah.
“Tebal amat dompetmu Riz,baru dijenguk ya?”
“Alhamdulillah,orang tua dirumah masih ingat saya mpok” jawabku sambil tersenyum. Mpok Odah terkekeh mendengar jawabanku.
            Aku keluar dari warung Mpok Odah. Akhirnya aku bisa bernafas lega. Warung Mpok Odah yang kecil nan sempit belum ditambah suara teman-teman yang riuh rendah minta makanan,membuat ruangan pengap,bahkan terasa tak ada oksigen di dalamnya.
            Tak terasa aku sudah sampai di asramaku. Saat hendak masuk kamar,langkahku terhenti karena ada yang memanggilku.
“Riz!” seru orang dibelakangku.
Aku menoleh,Andre rupanya. “Ya,ada apa?”
“Kata ustadz,kamu disuruh kekamarnya,ada telpon dari ibumu.”
Ada telpon dari ibu?baru kemarin ibu sambang.
“Hei malah melamun,buruan!” Andre membuyarkan lamunanku. Aku berlari kecil menuju kamar ustadz. Sesampainya disana ustadz Hasbi menyerahkan HP nya padaku.
“Assalamu’alaikum,Rizky?”terdengar suara wanita yang lembut dari seberang sana. Ibu.
“Wa’alaikumsalam,baru kemarin ibu sambang,ada apa bu?”
“Selamat ulang tahun putra ibu tersayang. Jadilah lebih baik dari tahun kemarin. Semoga diberi kesehatan,ilmu yang barokah dan manfa’at,belajar yang rajin juga,buat bangga ibu dan abah ya nak.” Aku terenyuh,air mataku menetes. Terbayang wajah ibu yang syahdu dan tatapan matanya yang melankolis,. Terkadang hal itu yang sering membuat aku rindu kepada ibu. Aku ingin memeluknya.
“Aamiin,isyaallah bu.”aku hanya bisa membalas itu.
“Riz,uang syariah Rp 250.000 yang ibu kasih waktu sambang sudah kau bayar kan?”tanya ibu memastikan. Aku terhenyak,aku baru ingat kemarin waktu ibu menjengukku,ibu mengamanatiku untuk membayar uang syari’ah yang menunggak bulan kemarin. Aku terdiam lama,aku tak bisa menjawab pertanyaan ibu.
“Eh…Um.. sudah kok bu”aku berbohong”
“Ya sudah,ibu ppercaya denganmu Rizky,Wassalamu’alaikum” Ibu menyuidahi pembicaraan.
“Wa’alaikumsalam” Aku berbalik badan mengembalikan HP ustadz Hasbi.
“Makasih ustadz”
“Sama-sama. Oh ya,selamat ulang tahun Rizky” Ustadz Hasbi tersenyum simpul padaku. Aku hanya membalas dengan senyum juga.
***
            Gusar. Jam menunjukkan pukul 12.05 WIB malam. Tetapi mataku tak kunjung terlelap. Tak biasanya aku terjaga sampai jam segini. Kulihat teman-temanku,mereka sudah terlelap,mengarungi mimpi mereka masing-masing. Pertanyaan ibu terngiang di telingaku lagi. bagaiman ibu kecewa?lalu marah padaku?lalu bagaimana aku menggatinya?,pertanyaan-pertanyaan iru menggelayut di otakku. Bagimana bisa,aku mengira kalu itu uang lebihan yang merupakan rejekiku? Bodohnya aku.
***
            Esoknya aku mendapat telpon lagi dari ibu. Aku sudah bisa menebak ibu akan membahas apa.
“Riz ibu dapat telpon dari Pengasuh asramamu katanya uang syari’ah belum dibayar. Kau kemanakan uang itu Riz?” tak ada nada cemas maupun marah dari suara ibu. Begitu sabar.
Aku memberanikan bicara dan terus terang. “Ma’afkan Rizky bu,uang itu Rizky gunakan untuk mentraktir teman-teman kemarin.”
“Rizky anakku,kau sudah dewasa,sudah bisa membedakan mana yang baik dan salah,selesaikan masalah ini dengan mandiri.” Tutur ibu sabar. Aku menangis. Bagaimana ibu begitu sabar menghadapi ku,yang hanya benalu baginya?. Meskipun ibu diseberang,aku bisa merasakan tangan ibu mengusap rambutku dengan penuh sayang,itu yang biasa ibu lakukan ketika sifat benaluku kumat.
            Setelah telpon aku bergegas menuju kantor administrasi untuk membayar uang syari’ah,seperti yang diamanatkan ibu.
“Ustadz saya mau membayar uang syari’ah yang nunggak bulan kemarin.”
Ustadz Ro’uf-pemegang administrasi asrama-yang tadinya ber-komputer ria, mendongakkan kepala beliau ke arahku.
“Atas nama siapa?”
“Muhammad Rizky Pratama,kamar Imam Maliki.”
“Sebentar ya,”
Ustadz Ro’uf mengecek buku pembayaran. Sementara itu aku membuka dompet,kuambil semua isinya,Rp 500.000,batinku,sebenarnya itu uang sakuku sampai akhir bulan,namun kuambil uang senilai Rp 250.00 untuk mrmbayar itu semua.
“Sudah lunas.” Ustadz ro’uf mengernyitkan dahi,heran. Mataku terbelalak.
“Benar ustadz?”
“Iya,nih kalau kamu nggak percaya!” Ustadz Ro’uf menyerahkan buku keungannya padaku. Benar,disitu tertulis namaku,kamarku,tanda stempel asrama bukti lunas dan tanggal pembayaran yaitu 29 Agustus 2014,itu berarti hari ini. Siapa yang membayar ini?. Aku sangsi. Lega?,tidak sama sekali,meskipun itu sudah terbayar lunas. Jujur,aku bertambah gusar.
***TAMAT***





Tidak ada komentar:

Posting Komentar