Amanat
“
Makasih ya Riz traktirannya. Oh ya… habede juga ya.” Reza menepuk-nepuk
punggungku sembari berlalu. Aku hanya membalas dengan tersenyum.
Hari
ini aku ulang tahun,kutraktir teman-temanku. Ya biasalah ngopi,makan
siang,bahkan ada yang minta ditraktir rokok,3 hal itu sudah cukup memanjakan
perut mereka yang setiap siang bergemuruh minta diisi. Setelah semua temanku
pulang ke asram masing-masing,tinggal aku seorang diri di warung Mpok Odah.
“mmm.. berapa mpok jumlah totalnya?”
“Rp 250.000 Riz.”
Aku terkejut, Rp 250.000?batinku. Tak apalah hitung-hitung sedekah,lagipula ini
tahun ke-3 aku merayakan ulang tahun di pesantren ini. Aku bahagia. Sangat. Aku
menyerahkan uang sebesar jumlah total teman-temanku tadi ke Mpok Odah.
“Tebal amat dompetmu Riz,baru dijenguk
ya?”
“Alhamdulillah,orang tua dirumah masih
ingat saya mpok” jawabku sambil tersenyum. Mpok Odah terkekeh mendengar
jawabanku.
Aku
keluar dari warung Mpok Odah. Akhirnya aku bisa bernafas lega. Warung Mpok Odah yang kecil nan sempit belum ditambah suara
teman-teman yang riuh rendah minta makanan,membuat ruangan pengap,bahkan terasa
tak ada oksigen di dalamnya.
Tak
terasa aku sudah sampai di asramaku. Saat hendak masuk kamar,langkahku terhenti
karena ada yang memanggilku.
“Riz!” seru orang dibelakangku.
Aku menoleh,Andre rupanya. “Ya,ada apa?”
“Kata ustadz,kamu disuruh kekamarnya,ada
telpon dari ibumu.”
Ada
telpon dari ibu?baru kemarin ibu sambang.
“Hei malah melamun,buruan!” Andre
membuyarkan lamunanku. Aku berlari kecil menuju kamar ustadz. Sesampainya
disana ustadz Hasbi menyerahkan HP nya padaku.
“Assalamu’alaikum,Rizky?”terdengar suara
wanita yang lembut dari seberang sana. Ibu.
“Wa’alaikumsalam,baru kemarin ibu
sambang,ada apa bu?”
“Selamat ulang tahun putra ibu
tersayang. Jadilah lebih baik dari tahun kemarin. Semoga diberi kesehatan,ilmu
yang barokah dan manfa’at,belajar yang rajin juga,buat bangga ibu dan abah ya
nak.” Aku terenyuh,air mataku menetes. Terbayang wajah ibu yang syahdu dan
tatapan matanya yang melankolis,. Terkadang hal itu yang sering membuat aku
rindu kepada ibu. Aku ingin memeluknya.
“Aamiin,isyaallah bu.”aku hanya bisa
membalas itu.
“Riz,uang syariah Rp 250.000 yang ibu
kasih waktu sambang sudah kau bayar kan?”tanya ibu memastikan. Aku
terhenyak,aku baru ingat kemarin waktu ibu menjengukku,ibu mengamanatiku untuk
membayar uang syari’ah yang menunggak bulan kemarin. Aku terdiam lama,aku tak
bisa menjawab pertanyaan ibu.
“Eh…Um.. sudah kok bu”aku berbohong”
“Ya sudah,ibu ppercaya denganmu
Rizky,Wassalamu’alaikum” Ibu menyuidahi pembicaraan.
“Wa’alaikumsalam” Aku berbalik badan
mengembalikan HP ustadz Hasbi.
“Makasih ustadz”
“Sama-sama. Oh ya,selamat ulang tahun
Rizky” Ustadz Hasbi tersenyum simpul padaku. Aku hanya membalas dengan senyum
juga.
***
Gusar.
Jam menunjukkan pukul 12.05 WIB malam. Tetapi mataku tak kunjung terlelap. Tak
biasanya aku terjaga sampai jam segini. Kulihat teman-temanku,mereka sudah
terlelap,mengarungi mimpi mereka masing-masing. Pertanyaan ibu terngiang di
telingaku lagi. bagaiman ibu kecewa?lalu marah padaku?lalu bagaimana aku
menggatinya?,pertanyaan-pertanyaan iru menggelayut di otakku. Bagimana bisa,aku
mengira kalu itu uang lebihan yang merupakan rejekiku? Bodohnya aku.
***
Esoknya
aku mendapat telpon lagi dari ibu. Aku sudah bisa menebak ibu akan membahas
apa.
“Riz ibu dapat telpon dari Pengasuh
asramamu katanya uang syari’ah belum dibayar. Kau kemanakan uang itu Riz?” tak
ada nada cemas maupun marah dari suara ibu. Begitu sabar.
Aku memberanikan bicara dan terus
terang. “Ma’afkan Rizky bu,uang itu Rizky gunakan untuk mentraktir teman-teman
kemarin.”
“Rizky anakku,kau sudah dewasa,sudah
bisa membedakan mana yang baik dan salah,selesaikan masalah ini dengan
mandiri.” Tutur ibu sabar. Aku menangis. Bagaimana ibu begitu sabar menghadapi
ku,yang hanya benalu baginya?. Meskipun ibu diseberang,aku bisa merasakan
tangan ibu mengusap rambutku dengan penuh sayang,itu yang biasa ibu lakukan
ketika sifat benaluku kumat.
Setelah
telpon aku bergegas menuju kantor administrasi untuk membayar uang syari’ah,seperti
yang diamanatkan ibu.
“Ustadz saya mau membayar uang syari’ah
yang nunggak bulan kemarin.”
Ustadz Ro’uf-pemegang administrasi
asrama-yang tadinya ber-komputer ria, mendongakkan kepala beliau ke arahku.
“Atas nama siapa?”
“Muhammad Rizky Pratama,kamar Imam
Maliki.”
“Sebentar ya,”
Ustadz Ro’uf mengecek buku pembayaran.
Sementara itu aku membuka dompet,kuambil semua isinya,Rp 500.000,batinku,sebenarnya itu uang sakuku sampai akhir
bulan,namun kuambil uang senilai Rp 250.00 untuk mrmbayar itu semua.
“Sudah lunas.” Ustadz ro’uf
mengernyitkan dahi,heran. Mataku terbelalak.
“Benar ustadz?”
“Iya,nih kalau kamu nggak percaya!”
Ustadz Ro’uf menyerahkan buku keungannya padaku. Benar,disitu tertulis
namaku,kamarku,tanda stempel asrama bukti lunas dan tanggal pembayaran yaitu 29
Agustus 2014,itu berarti hari ini. Siapa yang membayar ini?. Aku sangsi.
Lega?,tidak sama sekali,meskipun itu sudah terbayar lunas. Jujur,aku bertambah
gusar.
***TAMAT***
Tidak ada komentar:
Posting Komentar