Hujan dan Kenangan
Losing him was blue like I’ve
never know
Missing him was dark grey all alone
But loving him was RED….
Lagu
milik Taylor Swift itu mengalun di gendang telingaku,melalui headset yang
terhubung dengan MP 3. Diluar hujan deras,mengguyur halaman rumah. Bau tanah
yang terkena air hujan,menusuk
hidungku. Tapi aku selalu suka itu. Karena hujan,ia yang selalu membawaku
kembali pada sebuah kenangan tentangnya,membuat rasa rinduku tersampaikan dan terkadang
sampai aku menitikkan air mata karenanya.
*****
Riki,dia
adik laki-laki kembaranku. Aku yang sebagai kakak. Riki sangat berbeda
denganku, dia mudah bergaul sedangkan aku lebih suka mengurung diri di kamar.
Meskipun begitu aku sangat menyayanginya,begitu juga dengan Riki,dia sangat
sayang padaku. 10 juli 2012,aku masih ingat hari itu, hari dimana kami
ber-ulang tahun ke-17.
“Em.. Bu, Riki mau ijin hang-out bareng temen-temen ya,ke
puncak. Boleh ya?” rayu Riki pada ibu.
“Ngapain ke sana?”
“ya… ngerayain sweet-seventeen nya Riki lah bu..”
“Nggak usahlah, di rumah aja lagian kan
nanti malam ada acara.”
“Ayolah bu..”
“lagian mendung lo,bentar lagi hujan Rik,”
“Ah ibu, siang bolong gini kok,Rik bukan
anak kecil lagi yang bisa dibohongin, janji deh sebelum jam 5 sore nanti Riki
balik.” Janji Riki sambil menunjukkan 2 jari membentuk peace
“Hmm.. ya sudahlah hati-hati!”
Riki
bersiul-siul senang karena di izinkan ibu pergi dengan teman-temannya,ia yang
menyadari bahwa aku yang dari tadi diam dan sembunyi di balik buku,mencoba
menyapaku,
“Hello
My Sista, hang-out yuk kak,bareng Riki. Kan ini ulang tahun kita berdua,”
“Nggak ah males” jawabku ketus.
“Idih,, yang lagi ultah kok sensi sih? Come on sist, it’s our sweet-seventeen
sekali dalam seumur hidup, kali-kali kek
keluar bareng adik kandung, biar Riki punya kenang-kenangan sama Kak Niki.”
“Kapan-kapan aja deh,kakak pengen di
rumah.”
“Oke deh,aku keluar dulu ya kak.”
“Hati-hati Rik” pesanku.
Setelah
Riki keluar rumah,aku melanjutkan membaca novelku. Suasana rumah sangat
hening,ibu di dapur,mbak Jum sudah pulang,dan aku sendirian di ruang tamu.
Suara gemuruh di luar sedikit menyentakku. Titik-titik air mulai turun dari
langit,semakin lama semakin deras. ‘hujan-hujan
gini pas buat tidur’ batinku,aku melangkah gontai menuju kamar. Kurebahkan
tubuhku dan wajahku kubenamkan di bantal. Nyaman.
*****
Kring…Kring…
Aku
terbangun. Kulihat meja disebelahku,HP ku berbunyi tanda ada panggilan masuk.
Di display tertera ada nama Riki,tanpa banyak bertanya dalam hati,aku
mengangkat telponnya.
“Apakah ini dari keluarga Riki Ardiansyah?” terdengar suara
asing dari seberang sana,suara siapa?
“Ya Benar,Ma’af siapa ya?”
“Umm… Kami dari pihak kepolisian, ananda Riki Ardiansyah
mengalami kecelakaan saat perjalanan pulang dari puncak”
Ah orang ini ada-ada saja,ini pasti modus penipuan.
“Pak, tolong tidak usah mengada-ada hal yang tidak
ada. Dosa loh pak.”
“Saya tidak berbohong mbak.” Terdengar nada keseriusan
dalam bicaranya.
Ibuku yang mendengar berisik-berisik dari luar
menghampiriku di kamar.
“Ada apa sih Nik?”
“Nih buk,ada orang bilang kalau Riki kecelakaan.”
“Hah? Mana HP mu?ibu pengen bicara.”
Kuserahkan HP ku pada ibu,lalu ibu keluar. Sekitar 5
menit ibu berbincang-bincang bersama orang
aneh itu.
“Ayo Nik kita harus segera menuju TKP” ibu menyeretku
keluar rumah dengan mata yang sembap. Aku tidak bisa berkata-kata.sedangkan di
luar masih hujan deras. Dengan pakaian yang basah kuyup,kami menaiki ojek
menuju TKP, sesampainya di sana aku melihat orang-orang berkerumun. Aku mencoba
mendusal untuk melihat apa yang terjadi,begitu juga dengan ibu. Seketika
tangisku langsung pecah,lemas rasanya. Bau anyir darah menyatu dengan air
hujan,aku tak tega melihatnya,kupalingkan wajahku dan menangis sejadi-jadinya.
Berharap semua ini hanya mimpi. Pukul 16.30 jenazah Riki disemayamkan di TPU
terdekat. Tangisan keluarga serta kerabat dan do’a mengiringi kepergiannya.
*****
“Niki..”
Panggilan ibu membuyarkan lamunanku tentang Riki.
“Nggak makan Nik,tuh ada sop ayam hangat
kesukaanmu,pas kan hujan-hujan gini makan makanan yang hangat-hangat.”tawar ibu
sambil mengelus punggungku. Lalu ibu duduk di sebelahku.
“Nanti saja bu, lagipula sop itu mengingatkanku pada
Riki,kan dia juga suka sop ayam.”kenangku.
Ibu tertawa kecil,lalu berkata,”Kapan kamu merelakan
kepergiannya?”
“Niki sudah ikhlas bu,tapi rasa rindu itu yang nggak
bisa Niki tahan.”
“Nik…” ibu menggenggam tanganku,mencoba menguatkan,
“terkadang ibu juga sering rindu,rindu akan tawa renyahnya,keusilannya,kalau
dia merengek meminta sesuatu seperti anak balita. Tapi jika ibu pikir,kalau ibu
larut terus-menerus dalam kerinduan,Riki tak akan tenang disana.” Mata ibu
mulai berkaca-kaca.”ibu yakin dia selalu bersama kita.”ibu tersenyum,lalu
bangkit dari duduknya dan keluar.Aku memandangi foto Riki yang terpajang di
dinding kamarku,”Selalulah bersama kami Rik.” Gumamku lirih.
Riki,
ia yang selalu hadir dengan hujan meskipun ia telah luruh bersama embun.
***TAMAT***
Tidak ada komentar:
Posting Komentar