Selasa, 23 September 2014

Cerpen

Hujan dan Kenangan
Losing him was blue like I’ve never know
Missing him was dark grey  all alone
But loving him was RED….
            Lagu milik Taylor Swift itu mengalun di gendang telingaku,melalui headset yang terhubung dengan MP 3. Diluar hujan deras,mengguyur halaman rumah. Bau tanah yang   terkena air hujan,menusuk hidungku. Tapi aku selalu suka itu. Karena hujan,ia yang selalu membawaku kembali pada sebuah kenangan tentangnya,membuat rasa rinduku tersampaikan dan terkadang sampai aku menitikkan air mata karenanya.
*****
            Riki,dia adik laki-laki kembaranku. Aku yang sebagai kakak. Riki sangat berbeda denganku, dia mudah bergaul sedangkan aku lebih suka mengurung diri di kamar. Meskipun begitu aku sangat menyayanginya,begitu juga dengan Riki,dia sangat sayang padaku. 10 juli 2012,aku masih ingat hari itu, hari dimana kami ber-ulang tahun ke-17.
“Em.. Bu, Riki mau ijin hang-out bareng temen-temen ya,ke puncak. Boleh ya?” rayu Riki pada ibu.
“Ngapain ke sana?”
“ya… ngerayain sweet-seventeen nya Riki lah bu..”
“Nggak usahlah, di rumah aja lagian kan nanti malam ada acara.”
“Ayolah bu..”
“lagian mendung lo,bentar lagi hujan Rik,”
“Ah ibu, siang bolong gini kok,Rik bukan anak kecil lagi yang bisa dibohongin, janji deh sebelum jam 5 sore nanti Riki balik.” Janji Riki sambil menunjukkan 2 jari membentuk peace
“Hmm.. ya sudahlah hati-hati!”
            Riki bersiul-siul senang karena di izinkan ibu pergi dengan teman-temannya,ia yang menyadari bahwa aku yang dari tadi diam dan sembunyi di balik buku,mencoba menyapaku,
Hello My Sista, hang-out yuk kak,bareng Riki. Kan ini ulang tahun kita berdua,”
“Nggak ah males” jawabku ketus.
“Idih,, yang lagi ultah kok sensi sih? Come on sist, it’s our sweet-seventeen sekali dalam seumur hidup, kali-kali kek keluar bareng adik kandung, biar Riki punya kenang-kenangan sama Kak Niki.”
“Kapan-kapan aja deh,kakak pengen di rumah.”
“Oke deh,aku keluar dulu ya kak.”
“Hati-hati Rik” pesanku.
            Setelah Riki keluar rumah,aku melanjutkan membaca novelku. Suasana rumah sangat hening,ibu di dapur,mbak Jum sudah pulang,dan aku sendirian di ruang tamu. Suara gemuruh di luar sedikit menyentakku. Titik-titik air mulai turun dari langit,semakin lama semakin deras. ‘hujan-hujan gini pas buat tidur’ batinku,aku melangkah gontai menuju kamar. Kurebahkan tubuhku dan wajahku kubenamkan di bantal. Nyaman.
*****
            Kring…Kring…
            Aku terbangun. Kulihat meja disebelahku,HP ku berbunyi tanda ada panggilan masuk. Di display tertera ada nama Riki,tanpa banyak bertanya dalam hati,aku mengangkat telponnya.
“Apakah ini dari keluarga Riki Ardiansyah?” terdengar suara asing dari seberang sana,suara siapa?
“Ya Benar,Ma’af siapa ya?”
“Umm… Kami dari pihak kepolisian, ananda Riki Ardiansyah mengalami kecelakaan saat perjalanan pulang dari puncak”
Ah orang ini ada-ada saja,ini pasti modus penipuan.
“Pak, tolong tidak usah mengada-ada hal yang tidak ada. Dosa loh pak.”
“Saya tidak berbohong mbak.” Terdengar nada keseriusan dalam bicaranya.
Ibuku yang mendengar berisik-berisik dari luar menghampiriku di kamar.
“Ada apa sih Nik?”
“Nih buk,ada orang bilang kalau Riki kecelakaan.”
“Hah? Mana HP mu?ibu pengen bicara.”
Kuserahkan HP ku pada ibu,lalu ibu keluar. Sekitar 5 menit ibu berbincang-bincang bersama orang aneh itu.
“Ayo Nik kita harus segera menuju TKP” ibu menyeretku keluar rumah dengan mata yang sembap. Aku tidak bisa berkata-kata.sedangkan di luar masih hujan deras. Dengan pakaian yang basah kuyup,kami menaiki ojek menuju TKP, sesampainya di sana aku melihat orang-orang berkerumun. Aku mencoba mendusal untuk melihat apa yang terjadi,begitu juga dengan ibu. Seketika tangisku langsung pecah,lemas rasanya. Bau anyir darah menyatu dengan air hujan,aku tak tega melihatnya,kupalingkan wajahku dan menangis sejadi-jadinya. Berharap semua ini hanya mimpi. Pukul 16.30 jenazah Riki disemayamkan di TPU terdekat. Tangisan keluarga serta kerabat dan do’a mengiringi kepergiannya.
*****
“Niki..”
Panggilan ibu membuyarkan lamunanku tentang Riki.
“Nggak makan Nik,tuh ada sop ayam hangat kesukaanmu,pas kan hujan-hujan gini makan makanan yang hangat-hangat.”tawar ibu sambil mengelus punggungku. Lalu ibu duduk di sebelahku.
“Nanti saja bu, lagipula sop itu mengingatkanku pada Riki,kan dia juga suka sop ayam.”kenangku.
Ibu tertawa kecil,lalu berkata,”Kapan kamu merelakan kepergiannya?”
“Niki sudah ikhlas bu,tapi rasa rindu itu yang nggak bisa Niki tahan.”
“Nik…” ibu menggenggam tanganku,mencoba menguatkan, “terkadang ibu juga sering rindu,rindu akan tawa renyahnya,keusilannya,kalau dia merengek meminta sesuatu seperti anak balita. Tapi jika ibu pikir,kalau ibu larut terus-menerus dalam kerinduan,Riki tak akan tenang disana.” Mata ibu mulai berkaca-kaca.”ibu yakin dia selalu bersama kita.”ibu tersenyum,lalu bangkit dari duduknya dan keluar.Aku memandangi foto Riki yang terpajang di dinding kamarku,”Selalulah bersama kami Rik.” Gumamku lirih.
            Riki, ia yang selalu hadir dengan hujan meskipun ia telah luruh bersama embun.
***TAMAT***



Tidak ada komentar:

Posting Komentar